Ramai diberitakan di media-media seputar kontroversi yang terjadi antara presiden SBY melawan Megawati perihal kasus BLT, masih saja menjadi lelucon tak bermutu hingga hari ini. BLT (Bantuan Langsung Tunai) yang dibagikan pemerintah SBY pada pertengahan Maret lalu dituding oleh Megawati sebagai bentuk kampanye dan tebar pesona menjelang Pemilu 9 April mendatang. megawati pun gerah dan berkomentar keras terhadap kebijakan BLT pada salah satu kampanyenya dengan mengatakan kurang lebih, “apakah ibu2 rela bergencet-gencet menggadaikan harga diri anda hanya untuk uang 200 rb rupiah ? mengapa pemerintah tidak menggunakan uang kompensasi BBM itu untuk pembangunan infrastruktur seperti jembatan, dll?’……bak bola salju yang menggelinding membesar, kritikan ibu mega ditanggapi dengan elegan dan tenang oleh SBY di salah satu kampanyenya dengan mengatakan, “Apakah kita punya hati, apakah kita tidak boleh membantu rakyat miskin, dst…” kontroversipun terjadi dimasyarakat. kelihatannya di akar rumput perang urat syaraf ini dimenangkan dengan telak oleh pak SBY. simpati dan dukungan mengalir kepada beliau dari orang2 miskin. selang tidak berapa lama, dalam hitungan hari megawati mengadakan jumpa pers untuk “menjilat ludahnya” sendiri. dengan mengatakan kurang lebihnya, “kami tidak menolak program BLT namun kami akan mengawasi pendistribusiannya agar tepat sampai kemasyarakat”. tidak hanya sampai disini kepanikan ibu mega semakin menjadi-jadi ketika terlihat di banyak televisi iklan PDI-P yang menggambarkan kadernya sedang membantu dan mengawasi pembagian BLT. memang lucu sekali…didaerahku gak ada tu kader PDI yang mengawasi pembagian BLT…hanya sekedar menutup malu dimuka media ? may be yes…dari sini kita melihat setidaknya 2 hal penting

1. Ibu Mega berbicara tidak difikir terlebih dahulu, lebih mendahulukan perasaan dan emosi daripada logika akal sehat

2. Ibu Mega pastinya mendapat kritikan dari kaum akar rumput PDI yang kebetulan juga mendapat BLT

dengan segala kekonyolan ibu mega maka kita pastinya berfikir masih layakkah dia memimpin bangsa? Ada-ada saj…

Oleh: ariaindra | 19 Maret 2009

Maksiat Oh Maksiat

MAKSIAT OH MAKSIAT

Duhai Maksiat…

Sungguh Diriku berat

Berlepas dari jerat – jerat

Yang tlah kau ikat trlalu kuat

Pada hati yang tlah brkarat

Pengingkaran pun terasa nikmat

Hingga bergunung dosa tlah ku pahat

Kian terasa, neraka tiada sekat

Duhai Maksiat…

Engkau dan setan terlaknat

Bersahabat berteman dekat

Berserikat menjadi penghianat

Melawan Alloh yang Maha Melihat

Juga Menantang Malaikat yang slalu mencatat

Duhai Maksiat…

Engkau buat pikiranku penat

Hatiku berubah hitam pekat

Jiwaku tersesat, akhlakku bejat

Ragaku meronta menggeliat

Masa depanku suram semburat

Rizkiku kian mampat

Usiaku sia – sia tak bermanfaat

Aku sendiri kehilangan akal sehat

Duhai Maksiat…

Kini aku berhasrat

Asa ku juga sudah bulat

Sbelum mentari terbit di barat

Dan ruh ini diambil malaikat

Aku ingin bertaubat

Kembali menjadi muslim ta’at

Ya, hanya dengan taubat

Hati kan bersih mengkilat

Iman juga akhlak kan memikat

Smua kudapat dalam taubat

Bukan dengan cara diruwat

Bukan pula memohon kepada jimat

Apalagi tirakat di kuburan keramat

Ya, karna taubat adalah obat

Dengan istighfar juga menyesal sebagai syarat

dan diiringi dengan tekad yang kuat

Untuk tak lagi berbuat maksiat

Meskipun terasa pahit dan berat

Kadang dada sesak bak terikat

Kan kulakukan smua dengan ikhlas dan brsmangat

Karna ku tak tahu kapan kiamat

Atau kapan tidur di liang lahat

Kini, ku berharap kepada Alloh yang memberi Rahmat

Agar dosa yang telah tercatat dan tersurat

Dapat diralat tanpa cacat

Menjadi pahala berganda berlipat

Sbelum ajalku mendekat

Atau turun azab nan hebat

Kelak, ku masih berharap diberi manfaat

Mlalui Rasul seluruh ummat

Tentunya Dengan izin Alloh yang Maha Penyelamat

Smogaku mendapat syafa’at

Wahai Sahabat…

Terlebih tuk Ikhwan dan Akhwat

Mari, bersama kita berbuat

Tuk segera bertaubat

Demi hidup bahagia di Akhirat

Sebelum sgalanya terlambat

Lenek Aikmel LOTIM NTB, 23 Okt. 07

Aria Ibnu Solihun

Puisi ini merupakan Versi Asli

Versi Editan Dimuat di Majalah Qiblati Edisi 06 Tahun III

Oleh: ariaindra | 19 Maret 2009

Sekolah Islam Menjamur di Sacramento

Sudah berdiri selama 11 tahun lalu, Al Arqam School menjadi satu-satunya sekolah tinggi Islam di California

Al-Arqam Islamic School menjadi contoh sekolah Islam yang paling disukai di Sacramento, ibukota negara bagian California, AS. Para siswanya diajarkan berbagai pelajaran tentang cara hidup dalam Islam.

“Mereka mengajarkan kami tentang Islam,” ujar Ramseesha Sattar, siswa berusia 14 tahun di Sekolah Al Arqam.

Di dalam sekolah, anak perempuan memakai jilbab, berpakaian secara sederhana dan berbicara dengan santun saat mengobrol dengan anak laki-laki.

“Saya senang sekolah di sini. Saya tidak keberatan dengan berbagai aturan,” ujar Sattar.

Didirikan 11 tahun lalu, Al Arqam School adalah satu-satunya sekolah tinggi Islam yang menyeluruh dan sehari penuh di California. Sekolah ini resminya diakreditasi dari Western Association of Schools and Colleges (WASC).

Baru-baru ini, Al Arqam School diterima untuk program pengajaran akademi tingkat sarjana muda internasional. Ini merupakan sekolah swasta pertama di Sacramento yang mendapat status untuk program International Baccalaureate (setingkat sarjana muda).

Saat ini Al Arqam School menampung lebih dari 300 siswa dan memiliki daftar cadangan untuk sekitar 50 siswa, kebanyakan untuk kelas tingkat rendah. Pihak sekolah berharap semakin banyak siswa yang mendaftar setelah banyak orangtua lebih suka bila anaknya sekolah di sana agar mendapatkan pendidikan Islam yang bernilai.

“Masyarakat kami memberi nilai lebih un-tuk pendidikan. Mereka mencari lingkungan di mana anak-anak dapat mempraktekkan nilai-nilai relijius,” ujar Dalia Wardany, wakil kepala sekolah.

Siswa yang bersekolah di Al Arqam berasal dari berbagai latar belakang yang berbeda, termasuk dari beragam etnis dan kebudayaan. Namun begitu, para siswa berbagi satu agama, makanan yang sama dan seragam sama.

Saat jam menunjukkan pukul 1.15 siang, para siswa istirahat dari belajar dan menunaikan salat. “Tidak ada sekolah lain yang menawarkan pendidikan seperti ini,” ujar Gihad Silmi, orangtua yang menjadi relawan di sekolah itu.

Al Arqam juga membantu warga Amerika untuk memahami dengan lebih baik tentang gaya hidup umat Islam.

“Sekolah ini membuka mata saya. Saya terkesan dengan anak-anak. Mereka begitu penuh hormat, khususnya saat berbicara dengan guru,” ujar Angelique Bradley, orangtua dari siswa kelas tujuh dari SD St Francis yang berkunjung ke Al Arqam untuk belajar tentang Islam.

Namun, tidak semua orang Amerika memiliki pemahaman yang sama. Ossama Kamel (15) biasa berolahraga dengan teman-temannya yang non-muslim. Mereka kerap mengejeknya karena jumlah siswa di Al Arqam hanya sedikit dan sekolahnya hanya mengajarkan ajaran Islam. “Mereka pikir, kami dilatih jadi teroris,” ujarnya.

Jajak pendapat yang dilakukan Pew Research Center menunjukkan bahwa mayoritas warga AS hanya tahu sedikit tentang praktik Islam dan tidak melihat kesaman pandangan antara Islam dan Kristen. “Padahal kami belajar untuk menjadi warga muslim Amerika yang baik,” ujar Kamal. [dikutip dari www.hidayatullah.com]

Oleh: ariaindra | 19 Maret 2009

Dan bercita-citalah…

BAGAIMANA MENANAMKAN OBSESI YANG TINGGI/HIMMAH ‘ALIYAH Oleh : Syaikh Hasan Al Bugisy (Penj.Ust.Ihsan Zainuddin dan Ust.Syaibani)

Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda : ”Nama yang tepat bagi seorang muslim adalah Hammam dan Harist dan nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman “. Al Hammam adalah niat yang kuat, sedangkan “Al Harits” adalah sosok dari hasil Himmah atau hammam yaitu bekerja untuk mendapatkan obsesi/keinginan tersebut. Jadi setiap manusia punya keinginan, namun tidak semua manusia memiliki keinginan “Himmah ” yang kuat.

A. DEFINISI HIMMAH Himmah tidak bisa dilihat secara dhohir karena Himmah adalah masalah yang hati dan akal pikiran manusia, bukan masalah amal. Secara bahasa Himmah berarti “An Niah“ (niat), “Iradah” (kehendak), “Al ‘azimah” (tekad). Dalam makna ini terdapat tiga kata yang berbeda yaitu berupa niat yang sifatnya biasa-biasa, kemudian iradah atau kehendak yang kuat lalu dilanjutkan dengan tekad untuk melaksanakan kehendak tersebut. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman : “ Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf dan Yusuf pun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda dari tuhannya ( QS. Yusuf : 24) Dalam ayat ini bisa diartikan bahwa belum ada aksi, atau amal tapi masih berupa Himmah niat. Dalam ayat tersebut terdapat kata “wahamabiha” yang artinya keinginan terhadapnya (wanita tersebut). Bukankah nabi Yusuf Úáíå Óáã adalah seorang nabi, bagaimana mungkin dia memiliki Himmah kepada wanita tersebut ? Dalam kaidah bahasa Arab ada istilah “takdim wa takhir” (kalimat didahulukan dan diakhirkan). Jadi menurut kaidah ini berarti Seandainya Nabi Yusuf Úáíå Óáã tidak mendapatkan petunjuk dari Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì, pasti Nabi Yusuf Úáíå Óáã juga berkeinginan terhadap wanita tersebut. Maka pada intinya bahwa Nabi Yusuf Úáíå Óáã tidak berkeinginan terhadap wanita tersebut karena sebelumnya beliau telah mendapatkan petunjuk dari Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì. Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda : Sesunggunya Allah telah menetapkan kebaikan-kebaiakan dan kejahatan-kejahatan kemudian menjelaskannya, maka barang siapa yang bermaksud berbuat kebaikan lalu belum sempat mengerjakannya, Allah mencatat disisinya sebagai satu kebagaikan sempurna. Dan jika dia bermaksud berbuat kebaikan lalu dia mengerjakannya, Allah mencatatnya sepuluh kebaikan dan akan dilipat gandakan sampai tujuh ratus lebih, hingga dilipatgandakan yang banyak sekali. Dan jika dia bermaksud berbuat kejahatan, tetapi dia tidak mengerjakannya, Allah mencatat baginya disisiNya satu kebaikan yang sempurna. Dan jika bermaksud berbuat kejahatan dan melakukannya, maka Allah mencatat baginya satu kejahatan”. (HR. Buhari dan Muslim) Dalam hadits ini Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã menjelaskan bahwa Himmah ada 2 yaitu :

1. Himmatul ‘Aliyah (Obsesi yang kuat)

2. Himmatud Daniyah (Obsesi yang rendah) Sesungguhnya Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì mencintai perkara-perkara yang mulia dan membenci perkara-perkara yang rendah atau hina. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì mencintai perkara yang tinggi / mulia baik dalam amal, agama, da’wah di jalan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì.. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì membenci perkara-perkara rendah, tidak bernilai dan hina, baik berupa perkara-perkara yang haram maupun yang mubah.

B. ‘ULUWUL HIMMAH (OBSESI YANG TINGGI) Seseorang dikatakan memiliki ‘uluwul Himmah atau Obsesi yang tinggi yaitu ketika seseorang telah menganggap remeh segala perkara-perkara di bawah cita-citanya. Misalnya seorang Da’I yang bercita-cita untuk menyebarkan agama Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì. Dia dikatakan memiliki Himmah yang tinggi, ketika dia telah menganggap remeh perkara-perkara selainya, ketika dia tidak perduli apapun tantangan dan pengorbanan yang harus dibayar mahal untuk memenuhi tujuan tersebut. Diceritakan dalam riwayat da’wah rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã ketika orang – orang Qurays mendatangi paman Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã yaitu Abu Thalib dan memintanya supaya membujuk kepada Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã agar menghentikan da’wahnya. Setelah Abu Thalib menyampaikan perihal tersebut. Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã berkata : “ wahai pamanku, andaikan mereka meletakkan Matahari ditangan kananku dan Rembulan ditangan kiriku agar supaya aku meninggalkan da’wah ini. Aku tidak akan meninggalkannya hingga aku binasa”. Kisah Rasulullah ini menunjukkan tingginya Himmah Rasulullah dalam memperjuangkan agama Allah ini. Beliau telah menganggap remeh semua perkara-perkara yang menghambat da’wah Islamiyah.

C. DUNUWUL HIMMAH (OBSESI YANG RENDAH) Yaitu ketika jiwa lemah terhadap tingkatan perkara-perkara yang tinggi atau mulia dan lebih memilih ridho pada perkara-perkara yang rendah. Jadi orang yang memiliki obsesi rendah ini adalah orang remeh, rendah yang tidak mau mencari masalah dan sayangnya mayoritas kaum muslimin sekarang berada dalam tingkatan ini. Diriwayatkan tentang panglima perang dimasa pemerintahan seorang Gubenur Basrah yang bernama Al Hajjaj. Al Hajjaj memerintahkan panglimanya untuk memerangi orang-orang Khawarij yang jumlahnya kurang lebih 200 orang pasukan sedangkan panglima ini memiliki pasukan kurang lebih 1000 orang pasukan. Sungguh pertempuran yang tidak seimbang. Namun orang Khawarij terkenal sebagai orang-orang yang memiliki keberanian dan kejujuran. Orang Khawarij adalah orang yang tidak mudah putus asa dalam mewujudkan keinginannya. Hingga akhirnya dalam pertempuran itu ternyata pasukan Khawarij memenangkan peperangan tersebut. Setelah peperangan selesai, dengan membawa kekalahan panglima kembali menghadap gubernur Al Hajjaj. Al Hajjaj bingung mengapa pasukan Khawarij yang jumlahnya sedikit bisa mengalahkan pasukan yang jumlahnya lebih banyak ? ternyata panglima pemimpin perangnya adalah orang yang memiliki Himmah rendah, yang lebih baik pulang dalam keadaan hidup, walaupun harus dicaci maki gubernur daripada mati walaupun terkenal dan terhormat. Dalam kisah ini menunjukkan lemahnya Himmah yang dimiliki oleh panglima perang ini. Dia lebih memilih hidup dalam kehinaan daripada mati dalam kehormatan. Setiap manusia secara umum memiliki keinginan atau Himmah, namun tiap-tiap seseorang memiliki tingkatan Himmah yang berbeda-beda sehingga dalam hidup terjadi perbedaan-perbedaan tingkatan amal. Firman Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì: “Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda” (QS. Al Lail : 4) Berdasar dari ayat ini, amalan manusia dibedakan dalam 2 hal yaitu :

1. ‘Imma lillah yaitu amal yang dikerjakan semata-mata untuk mendapatkan keridhaan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì

2. ‘Imma lighairihi yaitu amalan yang dikerjakan bukan karena Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì.. Amalan seperti ini adalah amalan yang dilakukan oleh orang yang memiliki obsesi rendah. ‘Immalillah adalah amalan yang dimiliki oleh orang memiliki obsesi tinggi yang mengejar kemuliaan. Dan ini hanya dilakukan oleh orang yang memiliki iman yang teguh dan kuat mencari kemuliaan disisi Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì.. Dalam ayat berikutnya Allah memberi jaminan kemudahan baginya. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman :”Adapun orang yang memberikan hartanya (dijalan Allah) dan bertaqwa. Dan membenarkan adanya pahala yang baik (surga). Maka kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah”. (QS. Al Lail : 5-7) Adapun untuk orang-orang yang memiliki Himmah rendah, yang mengerjakan amalan bukan karena Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì, tapi karena nafsu dan keinginan dunia maka Allah memberikan ancaman padanya. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman : “Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik. Maka kelak kami akan menyiapkan baginya jalan yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa”. (QS. Al Lail : 8 – 11) Itulah balasan bagi orang yang berpaling dari jalan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì yang melakukan amalan bukan karena Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì.. Dan apabila dia diberikan kemudahan oleh Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì sesuai sunnatullah, namun dengan mudahnya berujung pada azab, kesengsaraan dan kebinasaan disisi Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì.

D. PEMBAGIAN MANUSIA MENURUT ULAMA Dilihat dari kadar obsesi atau Himmah-nya, Ulama membagi kelompok manusia dalam 4 hal:

1. ‘Adzhimul Himmah yaitu orang yang memiliki cita-cita yang sangat besar. Yang memiliki al- Khifayah (kapasitas), mempunyai kesempatan, kemampuan untuk mencapai cita-cita lalu berusaha untuk mendapatkannya. Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata : “ Aku dahulu bercita-cita untuk mendapatkan kedudukan gubernur di Madinah, dan kini aku telah mendapatkannya. Kemudian aku berkeinginan untuk mendapatkan kedudukan sebagai Khalifah kaum muslimin di Madinah dan akupun telah mendapatkannya. Kini aku telah dapatkan semuanya, maka cita-citaku adalah untuk mendapatkan Surga Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì. karena tidak ada kedudukan yang lebih tinggi setelahnya”. Ibnu Mubarakh ditanya : “ Siapakah orang yang paling zuhud ? Beliau menjawab : “Orang yang paling zuhud adalah Umar Bin Abdul Aziz, karena dia telah didatangi dunia, namun dia menolaknya. Inilah kisah Umar Bin Abdul Aziz, beliau adalah contoh orang yang memiliki Himmah aliyah. Beliau adalah orang yang memiliki kredibilitas karena keilmuannya, punya kesempatan karena dia adalah keturunan Muawiyah.

2. Shoghiru Himmah yaitu Orang yang memiliki kifayah, kemampuan dan kesempatan tetapi lebih memilih melakukan hal-hal yang remeh atau rendahan. Diriwayatkan tentang seorang khalifah dimasa setelah pemerintahan Muawiyah. Dia didatangi oleh petugas pos, dan berkata : “wahai Amirul Mu’minin. Sesungguhnya kota disana sedang diserang oleh musuh“. Mendangar laporan petugas pos ini khalifah tidak menanggapinya. Malah dia berucap “Da’ni wa sa’di”(memangnya gue pikirin). Konon ceritanya khalifah ini senang memelihara burung merpati. Ketika petugas pos melapor, khalifah sedang kehilangan 1 ekor burung merpatinya. Sehingga dia menganggap bahwa burungnya lebih berharga daripada keadaan rakyatnya. Kisah ini menunjukkan tentang keadaan orang yang memiliki kemampuan, kedudukan, dan kesempatan baik, namun dia memilih melakukan hal yang rendah.

3. Orang yang tidak memiliki kapasitas untuk melakukan obsesi tinggi, tetapi berlagak memiliki kemampuan besar. Datanglah seseorang menghadap Imam Ahmad, dan berkata: ”Wahai Imam Ahmad, ada seseorang yang sedang kemasukan jin”. Mendengar laporan orang ini Imam Ahmad menjawab : “kembalilah, sampaikan kepada Jin, kalau Imam Ahmad menyuruhnya keluar”. Lalu orang ini kembali dan menemui orang yang kemasukan jin yang dia maksud. Sesampainya di sana di berkata kepada jin bahwa Imam Ahmad menyuruhnya keluar. Mendengar perkataan orang ini, jin inipun akhirnya keluar. Lalu setelah Imam Ahmad meninggal jin inipun datang lagi dan merasuki seseorang lagi. Kemudian karena Imam Ahmad sudah meninggal orangpun mendatangi orang yang dulu menemui Imam Ahmad dahulu dan dikatakan padanya kalau ada orang kesurupan jin. Mendengar penyampaian ini orang yang dulu menghadap Imam Ahmad menganggap kalau dulu Imam Ahmad mengusir jin hanya dengan menyuruh orang saja, maka diapun berbuat serupa. Dia menyuruh orang tersebut : “kembalilah, katakan pada jin kalau aku menyuruhnya keluar. Lalu pulanglah orang ini dan melakukan apa yang diperintahkan kepadanya. Namun setelah perintah itu dilakukan jin tersebut tidak juga keluar. Kemudian dia bertanya kepada jin. “kenapa dulu ketika Imam Ahmad menyuruhmu keluar engkau langsung keluar, sedangkan sekarang ketika aku suruh engkau tidak mau keluar” Jin menjawab :” dulu aku takut kepada Imam Ahmad karena ketakwaanya”.

4. Al bashiiru binafsihi yaitu orang yang tau diri, yang tidak memiliki kapasitas tinggi dan tidak menempatkan dirinya untuk melakukan hal yang besar.

E. BEBERAPA FENOMENA ORANG YANG PUNYA HIMMAH RENDAH

1. Berkaitan tentang upaya seorang muslim menuntut ilmu. Ketika dia tidak mau mempelajari hal-hal yang wajib dilakukan oleh muslim. Misalnya mempelajari tentang rukun-rukun sholat dan lain-lain.

2. Ketika orang menuntut ilmu bukan untuk mendapatkan manfaat dari ilmu, atau menuntut ilmu bukan untuk dida’wahkan tetapi hanya untuk mendapatkan ijazah ataupun pekerjaan semata.

3. Ketika orang menuntut ilmu supaya nampak hebat dalam berdebat, pandangan orang tertuju padanya.

4. Ketika seseorang yang baru menuntut ilmu dan baru mendapatkan hidayah, begitu mudah memberikan tahzir atau cap buruk pada ulama atau orang yang lebih berilmu diatasnya. Karena meskinya seorang apabila semakin berilmu meskinya semakin takut pada ulama.

5. Ketika seorang dai yang berda’wah dijalan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì, kemudian mendapatkan tantangan berda’wah, dia berhenti. Kaena meskinya seorang da’I ketika mendapatkan da’wah harus tegar. Ketika agama memintahnya meninggalkan kepentingan pribadinya meskinya dia siap.

6. Ketika kita takut kepada manusia yaitu : • Takut jangan sampai orang lain termasuk musuh Islam, ketika kita berda’wah kita dicap sebagai orang yang fundamentalis, ekstrim atau bentuk kata-kata teror lainnya. Padahal ucapan/cap/opini public yang dicitrakan buruk tentang Islam adalah hal yang sengaja dilakukan oleh mereka agar kaum muslimin lemah. • Berputus asa ketika dalam berda’wah tidak disambut baik oleh orang. Putus asa karena orang menjauhi perjuangannya. Padahal semestinya kita sadar bahwa prinsip dasar kita dalam berda’wah adalah hanya menyampaikan agama Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì adapun orang mau menerima atau tidak adalah hak Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì Allahu A’lam PENYEBAB TINGGI DAN RENDAHNYA HIMMAH Yang apabila seseorang meninggalkan atau menjauhi hal-hal yang bisa menyebabkan rendahnya Himmah dan semangat itu dia akan mendapatkan pertolongan Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì untuk tetap dalam himman yang aliyah.

1. Tabiat Manusia Karena Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì telah menciptakan manusia sesuai dengan tabiatnya masing-masing oleh karena itu hendaknya seseorang memahami tabiatnya dan memilih tempat-tempat yang tepat sesuai dengan tabiat yang dia miliki untuk mengembangkan potensi diri yang ada padanya, misalnya ada orang yang diberikan kemampuan untuk berpikir, maka hendaknya ia berusaha dalam meningkatkan semangatnya tersebut seperti mengurusi kantor, menulis, mengeluarkan ide-ide yang baik, kemudian menggambarkan tujuan-tujuan, menyusun program-program kerja dan lain-lain. ada orang juga yang diberikan kemampuan banyak untuk bergerak dia senang ke sana kemari, kalau urusan lapang dialah yang cocok, maka orang seperti ini mencari amalan-amalan yang mendukung tabiatnya tersebut. Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã ketika melihat potensi-potensi para sahabat sesuai dengan tabiat yang mereka miliki, maka beliau memberikan semangat dan menempatkan para sahabat sesuai dengan potensinya. Contohnya Abu Hurairah ÑÖí Çááå Úäå diberi gelar atau disebutkan wadah dari ilmu, karena Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã melihat beliau kuat hafalannya dan sangat senang menimba ilmu dan menerima hadist dari Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã sehingga dikenal sebagai sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadist. Khalid Bin Walid ÑÖí Çááå Úäå misalnya, beliau ini bukan termasuk sahabat yang banyak menghafal dan bukan pula sederetan sahabat yang banyak meriwayatkan hadist dan penuntut ilmu akan tetapi Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã melihat beliau ini senganya dipeperangan dan mimilki kemampuan dalam berperang, sehinga Rasullullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã demikain pula sahabat seperti Abu Bakar ÑÖí Çááå Úäå dan khalifah setelahnya mengangkat beliau sebagai panglima perang untuk melawan orang-orang kafir, bahkan beliau diberi gelar sebagai saif min suyufillah (pedang dari pedang-pedang Allah). Demikian dengan yang lain, adapun Ali bin Abi Thalib ÑÖí Çááå Úäå dan Muadz bin Jabal ÑÖí Çááå Úäå mereka ini adalah orang-orang yang faham tentang halal haram dan faham dalam masalah qoda/hukum-hukum maka sahabat tersebut terkenal dengan hukum-hukumnya tersebut karena orang-orang yang bergelut dalam masalah ini seperti qodi atau hakim harus memiliki ketajaman dalam memperaktekkan daripada nash-nsh yang ada tersebut. Sehingga Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã betul-betul dapat memamfaatkan potensi yang dimiliki para sahabat Maka hendaknya kita melihat tabiat masing-masing sehingga kita dapat memilih job yang cocok dengan potensi yang dimiliki supaya Himmah kita tetap terjaga.

2. Bagaimana bapak dan ibu mentarbiyah anak-anaknya di rumah Rasulullah bersabda yang artinya : “Tidaklah lahir seorang anak kecuali dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi” ( Jika kita melihat hadist tersebut, ini dalam perkara-perkara agama dimana orang tua sangat berpegaruh dalam pembinaan Himmah anak-anaknya. kalau orang tua senangtiasa mengajarkan perkara-perkara yang tinggi, perkara yang memiliki keutamaan yang besar baik, maka insya Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì anak akan terbentuk seperti didikan orangtuanya begitupun sebaliknya bila mengajarkan perkara-perkara yang hina contonya Ibnu Zubair bin awwam yang senangtiasa, tetapi sebaliknya jika orang tua senangtiasa mengajarkan hal-hal yang hina dan kurang bermamfaat maka anak tersebut akan terbentuk menjadi seperti itu pula. Banyak contoh di kalangan para sahabat, sebagai contoh Zubai ibnu Awwam ÑÖí Çááå Úäå di mana sahabat ini dijamin masuk surga oleh Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã. Beliau ini senangtiasa mengajarkan anaknya berperang sampai dalam satu kondisi beliau sampaikan kepada anaknya bahwa siapa yang paling duluan masuk dalam pasukan musuh dan paling cepat kembali, ini salah satu contoh sahabat yang membina anaknya dengan menanamkan Himmah aliyah sehingga tidak heran kalau Ibnu Zubair menjadi seorang khalifah karena sejak awal terlatih seperti itu contoh lain adalah kisah pada perang badar, ada dua anak kecil di antar para sahabat bertanya manakah yang bernama Abu Jahal, lalu berkata kami akan mencari Abu Jahal dan berusaha membunuhnya, dia yang mati atau kami yang terbunuh padahal mereka masih anak-anak, lalu mereka berhasil membunuhnya. Ini karena mereka telah tertarbiyah sejak kecil. Makanya seorang penyair mangatakan “ibu itu adalah madrasah atau tempat belajar” Kalau ibu disiapkan dengan baik maka akan lahir generasi yang baik, dalam kondisi kita sekarang ini banyak orang tua tidak memperhatikan anaknya, membiarkan anaknya banyak bermain, mendengarkan musik, bergelut dengan urusan-urusan hina yang tidak bermamfaat, atau orang tua tidak memilihkan bagi mereka teman-teman yang baik dan tidak memerintahkan anaknya mengerjakan sholat sehingga. Sehingga mereka tumbuh dalam keadaan seperti itu. Oleh karena itu agar Himmah itu tetap ada maka hendaknya orang tua membina anaknya di rumahnya.

3. Masyarakat yang baik Apabila masyarakat itu adalah masyarakat yang solihah di dalamnya senangtiasa dibina akhlak yang mulia maka darinya akan lahir orang yang baik pula. Juga sebaliknya apabila masyarakat memiliki biah yang buruk, hidup dalam tatanan yang kurang baik, maka akan hidup person-person yang buruk pula, contohnya Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã menceritakan kepada para sahabat kisah seorang bani Israil yang telah membunuh 99 orang yang ingin bertaubat, mencari orang yang paling alim di dunia ini lalu ia ditunjukkan kepada orang yang ahli ibadah, lalu ahli ibadah tersebut menghukumi dengan perasanya dan mengatakan tidak ada taubat lagi bagimu, maka dibunuh pula ahli ibadah tersebut sampai korbannya genap 100, dia tidak puas dengan jawaban ahli ibdah tersebut dan keinginannya masih kuat untuk bertaubat maka dia mendatangi alim yang lain dan bertanya apakah taubat saya masih diterima, saya telah membunuh 100 orang. Alim tersebut berkata apa yang menghalangi kamu untuk bertaubat, Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì akan menerima taubatmu. kemudian dia suruh pindah dari kampungnya yang rusak ke kampung yang baik, lalu berangkatlah orang tersebut dan di tengah perjalanan dia meninggal, maka dengan rahmat Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì iapun dicatat sebagai penghuni surga. Dari kisah ini dapat kita mengambil pelajaran bahwa biah ini dapat memproses orang tersebut, maka tanggung jawab kita bagi pejuang-pejuang dakwah untuk mengajak orang ikut dalam majelis-majelis ilmu, dan berlepas diri dari akhlak jahiliyah dan perkara-perkara yang buruk.

4. Dengan keberadaan para murabbi dan guru bisa menjadi teladan Yang meraka itu bisa menjadi kudwah bagi person-person. Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì telah memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã . Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al Ahzab:21) Dari ayat ini menunujukkan pentingnya keberadaan murabbi di tengah-tengah muridnya/mutarabbi sebagai orang yang memberikan contoh. Apabila mutarabbi betul-betul menimba ilmu dengan akhlak dari murabbi tersebut, maka akan terbentuk pribadi yang sholeh. Bagaimana seorang murabbi betul-betul bisa memberikan contoh perbuatan sesuai dengan apa yang disampaikan. Sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã kepada sahabatnya sampai-sampai beliau mendapat pujian sebagai seorang yang berakhlak mulia. Diriwayatkan dari ‘Aisyah ÑÖí Çááå ÚäåãÇ tatkala ditanya tentang bagaimana akhlaknya Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã, beliau menjawab : “ akhlak Rasulullah adalah al-Quran”. Sahabat dahulu adalah bagaikan Al Qur’an yang berjalan sebab teori-teori yang ada dalam al Qur’an telah dipraktekkan oleh sahabat di setiap sisi hidupnya sampai Islam dimenangkan. Inilah pelajaran bagi murabbi untuk mempraktekkan teori-teori yang telah disampaikan kepada mutarabbinya. Contoh ketika Rasululah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã berbicara tentang jihad, maka beliau adalah orang yang paling terdepan dalam peperangan, dan sanagt pemberani. Suatu saat di Madina orang-orang mendengar sesuatu yang mengagetkan, dan orang – orang sembunyi-sembunyi mencari dimana dan suara apa itu. Namun ternyata Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã telah pulang dari tempat tersebut dengan kudanya tanpa pelana dan mengatakan bahwa tidak ada bahaya. Ini menunjukkan keberanian Rosulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã, beliau bukanlah seorang pengecut.

5. Tasji’ atau Pemberian Semangat Kebanyakan orang memiliki semangat tinggi namun kurang diarahkan pada perkara yang kurang bagus. Suatu ketika Ibnu Masud ÑÖí Çááå Úäå tatkala melewati seorang yang bernyanyi dengan suaranya yang indah, maka Ibnu Mas’ud ÑÖí Çááå Úäå berkata alangkah indahnya suaramu dan lebih bagus lagi seandainya engkau membaca al-Quran lalu pemuda ini karena tertasji’ oleh kata-kata Ibnu Mas’ud dia mulai membaca Al Qur’an dan akhirnya dia menjadi orang yang bersuara indah dalam membaca Al Qur’an. Lalu dia bertanya siapakah orang ini ? maka dijawab dia adalah Ibnu Masud sahabat Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã. Imam Syafi’I orang yang menguasai syair-syair, yang beliau kuasai dari para pakar-pakarnya. Suatu saat seseorang mendengar Imam Syafi’i sedang melantunkan syair-syair. Orang itu berkata : “masa engkau dari keturunan Quraiys, masa hanya bisa menghafal syair-syair saja. Tidakkah engkau memulai menghafal Al Qur’an dan hadist-hadist Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã”. Mendengar kata-kata orang ini, Imam Syafi’I tertarji’ untuk belajar kepada Imam Malik sampai beliau menjadi ulama besar, bahkan menjadi salah satu mahzab terbesar. Dari riwayat ini bisa diambil contoh bahwa tasji’ atau penyemangat itu bukan hanya dari orang-orang seperti Ibnu Mas’ud ÑÖí Çááå Úäå atau semisalnya tetapi bisa saja berasal dari orang-orang umum bahkan orang yang bermaksiat. Adalah imam Ahmad, yang terkena fitnah tetang Al Qur’an yang dianggap mahluk. tatkala masuk di penjara bersama seorang peminum khamar tetapi peminum itu memberi semangat kepada Imam Ahmad, artinya semangat itu bisa kita ambil dari manapun , apa kata orang tesebut: “Yaa Imam saya ini masuk penjara karena bermaksiat maka saya dicambuk tapi saya tetap sabar menahan siksaa. sedangkan anda wahai imam dipenjara dan disiksa karena mempertahankan kebenaran, tentunya anda harus lebih kuat dari saya”. Sehingga imam Ahmad, berkata: “perkataan itulah yang menjadikan saya semakin kuat untuk bertahan siksaan tersebut“.

6. Iman kepada Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì Setiap bertambah iman seseorang maka semakin bertambah Himmah seseorang. Iman ini akan mengajak kepada akhlak yang baik Rasulullah Õá ÇááÉ Úáíå æÓáã bersabda : “sesungguh aku di utus tidak lain untuk menyempurnakan akhlak manusia” Allah ÓÈÍÇäå æÊÚáì berfirman : “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al Ankabut:69) Dalam ayat ini Allah menerangkan bahwa Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan ihsan ini adalah kedudukan tertinggi dalam urutan agama ini, Islam, Iman dan Ihsan. Sebagaimana dalan hadist Jibril, ihsan yaitu engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, meskipun engkau tidak melihatnya, sesungguhnya Allah melihatmu. Maka ini adalah tingkatan yang tertinggi.. Maka barang siapa yang telah menyempurnakan keislamannya memenuhi keimannya dengan sekuat tenaga maka hal ini adalah perkara yang sangat penting mengantarkan seseorang untuk mendapatkan Himmah ‘aliyah.

7. Membaca Sirah Orang-Orang Besar Yang Telah Berhasil Karirnya Membaca sirah atau sejarah orang-orang besar yang telah berhasil dalam karirnya, apakah dia seorang muslim ataupun non muslim. Jika dia seorang muslim, tentunya dari para ulama-ulama yang telah berhasil. Dan sebenarnya perkara keberhasilan itu bukanlah suatu yang sulit, karena perkara itu adalah perkara yang manusiawi, yang semua orang bisa meraihnya. Sehingga ini adalah persoalan mudah dan tidak dianggap sebagai persoalan yang tidak mungkin. Kemudian dari kisah-kisah tersebut, kita juga bisa mempelajari uslub-uslub atau bagaimana tatacara mereka bisa memperoleh keberhasilan tersebut, dan tidak memiliki Himmah yang rendah. (Transkrip Daurah Imiyah,Masjid Darul Hikmah Antang Makassar 4 Agustus 2007)

dikutip dari http://www.wahdah.or.id

Kategori